Clock

Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juni 2014

Mendidik Anak Saleh, Berawal dari Orang Tua


Judul    :    Kado Istimewa untuk Ayah dan Bunda Mendidik Anak dari Kandungan hingga Dewasa
Penulis    :    Dr. Yasir Naser
Penerbit    :     Wafa Press, Klaten
Tahun Terbit    :     September, 2013
Halaman    :     X + 248 halaman

SETIAP orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang saleh. Sebagai gambaran dari keinginannya tersebut selalu melantunkan doa yang diajarkan di dalam al-Qur’an, "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqon: 74). Cukupkah hanya dengan membaca doa ini saja keinginan bisa tercapai? Atau seperti apakah sebenarnya memahami keinginan memiliki anak yang saleh lalu dikaitkan dengan doa tersebut?

Adalah Dr. Yasir Naser di dalam bukunya “ ‘Asyru Rasaail Likulli Abi wa Ummi”  yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Kado Istimewa untuk Ayah Bunda: Mendidik Anak dari Kandungan hingga Dewasa” menjawab pertanyaan tersebut. Di dalam buku ini, penulis menyatakan bahwa untuk memiliki anak yang saleh tak cukup hanya dengan melantunkan doa kepada Allah saja. Tapi yang mesti dilakukan terlebih dahulu adalah, dengan pembentukan diri dari kedua orang tua. Karena hal ini juga sudah dijelaskan oleh Allah SWT. di dalam al-Qur’an, bahwa tak akan terjadi perubahan tanpa ada perubahan dari diri sendiri. (QS. Ar-Ra’ad: 11)

Perubahan diri yang dimaksud bukan saja dalam tataran ibadah, tapi juga dalam tataran komunikasi keseharian di rumah antara suami dan isteri. Sebelum anak lahir, suami mesti memahami bahwa ia harus menyiapkan diri untuk membantu isteri mengurus rumah. Ketika anak lahir hingga menjadi menjadi balita lalu ia melihat kedua orang tuanya akur dan saling membantu, maka ini akan terekam dalam dirinya untuk menjadi orang yang baik.Demikian halnya dalam hal ibadah. Ketika anaknya menyaksikan kedua orang tuanya taat dalam beribadah, maka anak kelak akan menjadi orang yang taat ibadah. (hal. 16-18).

Selain itu, melalui buku ini juga penulis mengkritik keras perilaku orang tua yang kerap melarang anaknya, tapi ia sendiri tetap melakukan hal yang dilarang tersebut. Contohnya ketika orang tua melarang menonton tayangan dewasa di televisi tapi orang tua malah menonton di saat anak sedang jaga. Demikian hal juga, penulis mengkritik perlakuan orang tua dalam hal mendidik karakter anak yang diserahkan secara penuh kepada sekolah. (Hal. 15-16)

Buku ini sangat kaya informasi bagi para orang tua yang ingin mendidik anaknya. Bukan saja dari sisi kajian psikologis, tapi juga dari sisi kajian Al-Qur’an, hadis dan sejarah juga ikut disertakan oleh penulis. Misalnya saja, kisah seorang anak yang mengembala 10 ekor kambing, lalu Umar bin Khattab meminta dan bahkan berniat untuk membelinya. Namun karena bukan miliknya, anak tersebut tak mau menjualnya. Malah, ia menjawab permintaan Umar tersebut dengan berkata, “Jika sampai saya melakukannya, di mana Allah?” Mendengar jawab anak tersebut Umar menangis dan bahagia melihat keteguhan iman anak tersebut. (hal. 157-158) Tentu saja anak tersebut adalah anak hasil didikan orang tua yang saleh dan bertauhid kepada Allah.   

Buku ini dibagi oleh penulis menjadi 10 bagian yang diistilahkannya dengan 10 kado. Yaitu, menyambut kelahiran; 30 tips agar anak hafal al-Qur’an; Tips agar anak gemar shalat; Menumbuhkan jiwa kepemimpinan; 30 ide untuk memanfaatkan masa liburan; Para sahabat dan pendidikan anak; Memilih teman; Membentuk kepribadian anak; Anak-anak dan bulan Ramadhan; Agar anak senang berjilbab. Buku ini layak dimiliki oleh para orang tua, agar bisa mendidik anaknya menjadi anak yang saleh. Pasalnya tidak ada yang lebih berharga selain anak yang saleh yang kelak akan mendoakan orang tuanya selalu, baik saat masih hidup maupun telah tiada. Selamat membaca! (*)

Peresensi: Rahmat Hidayat Nasution, Anggota Komisi Infokom MUI Kota Medan

Sumber : http://analisadaily.com/

Rabu, 21 Mei 2014

Tidak ada sejarah yang lengkap


Judul Buku     : Sejarah Peradapan Islam
Penulis            : Dedi Supriyadi, M.Ag.
Penerbit         : CV Pustaka Setia
Tahun terbit   : 2008
Jumlah Hal     : 336 halaman
Tebal buku     : 16 x 23 cm
Resensator      : Rio Pamungkas
No. ISBN 979-730-928-2

 “ Tidak ada sejarah yang lengkap” terang sang penulis Dedi Supriyadi, M.Ag. dalam bukunya yang berjudul SEJARAH PERADABAN ISLAM. sang penulis mengatakan demikian agaknya bukan tanpa sebab karena memang kenyataannya kita hanya dapat mengalami suatu kejadian dari sebagian totalitas kejadian itu. Maka dari itu tak salah jika kita sering mendengar istilah sejarah berulang dan kita perlu belajar sejarah. Dua istilah terbutlah yang menjadi latar belakang penulis dalam mengungkap sejarah peradaban Islam baik secara subjektif maupun objektif.

Pada bagian awal buku ini pembaca akan diajak untuk memahami dan mengenal konsep sejarah, kebudayaan dan peradaban terlebih dahulu, mulai dari sejarah berdasarkan artian bahasa(etimologis) dan secara definisi makna(terminologis). Sejarah yang dalam bahasa Arab disebut tarikh memiliki berbagai macam definisi dan pemahaman yang beragam serta berbeda-beda dari para Ahli sejarah, seperti halnya perbedaan pendapat yang terjadi antara seorang sejarawan Gottschalk yang berpndapat bahwa sejarah tidak lebih dari sebuah rekaman peristiwa masa lampau manusia dengan segala sisinya, dengan Ibn. Khaldun yang berpandangan bahwa sejarah tidak hanya dipahami sebagai suatu rekaman peristiwa masa lampau, tetapi juga penalaran kritis untuk menemukan kebenaran suatu peristiwa pada masa lampau. Masih banyak lagi perbedaan pemahaman atas pemaknaan sejarah di dalam buku ini namun sedikit dapat ditarik kesimpulan bahwasannya buku ini mengartikan sejarah adalah sebagai suatu peristiwa pada masa lampau dengan unsur-unsur penting di dalamnya  seperti pelaku yaitu manusia, dan daya kritis dari peneliti sejarah. 

Berikutnya adalah apa itu kebudayaan, dari beberapa pengertian yang disuguhkan maka penjelasan yang dikutip dari buku The Wold Book Encyclopedia-lah yang kiranya paling rinci dan sistematik, dijelaskan bahwa kebudayaan adalah semua aktivitas manusia yang nyata termasuk prestasi dalam berbagai bidang, yang berlangsung dari suatu generasi manusia ke generasi berikutnya. Kebudayaan bermakna berbagai kegiatan yang menggunakan bahasa, menikah, membesarkan anak-anak, mencari nafkah, menjalankan pemerintah, berjuang dalam perang, dan ikut serta dalam berbagai kegiatan keagamaan. Ada juga yang mengatakan Kebudayaan adalah pandangan hidup sebuah masyarakat, kemudian yang lain juga mengatakan kebudayaan adalah serangkaian cara hidup pada sekelompok masyarakat tertentu. Sekarang tergantung bagaimana cara kita untuk memaknai apa itu sebuah kebudayaan, terlepas dari itu sekiranya setelah kita membaca beberapa pengertian kebudayaan dari buku ini sedikit bisa membandingkannya dengan kehidupan kita di masa sekarang ini, sudahkah cukup berbudaya ataukah belum, tentunya yang dimaksud dalam hal ini adalah sebuah kebudayaan islam yang baik dan benar.

Kebudayaan dan peradaban mempunyai makna berbeda namun saling berkaitan satu sama lain, dari sudut pandang ilmu Antropologi yang sudah berkembang sekarang, penulis dalam buku ini membedakan pengertian antara kebudayaan dan peradaban. Kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi(agama), dan moral, sedang peradaban terefleksikan kedalam politik, ekonomi, dan teknologi. Ada banyak ahli sejarah yang sebelumnya mencoba membedakan dengan jelas antara kebudayaan dan peradaban seperti misalnya Koentjaraningrat yang membagi kebudayaan kedalam tiga wujud yaitu (1) wujud ideal, (2) wujud kelakuan, dan (3) wujud benda, dari ketiga wujud tersebut disimpulkan bahwa kebudayaan mencangkup juga peradaban, tetapi tidak sebaliknya.

Kemudian ada juga H.A.R. Gibb didalam bukunya yang berjudul Whither Islam menyatakan bahwa Islam sesungguhnya lebih dari  sekedar sebuah agama, ia adalah suatu peradaban yang sempurna. Namun dari berbagai macam pengertian yang dihadirkan oleh para ahli sejarah, tampaknya masih belum ditemukan sebuah perbedaan yang jelas dalam memaknai arti kebudayaan maupun peradaban, akan tetapi didalam buku ini penulis mencoba memberi sedikit gambaran ringkas dari pendapat Oswald Speengler yang dikutip samuel P. Huntington, bahwa kebudayaan adalah untuk menunjuk upaya-upaya manusia yang masih terus berlanjut(proses), sedangkan peradaban untuk menunjukkan titik akhir dari kegiatan mereka dimasa itu(hasil).
Setelah mengetahui konsep-konsep dasar dalam mempelajari dan memahami sebuah sejarah pembaca akan mulai diajak memasuki peristiwa-peristiwa yang ada dalam sejarah peradaban islam mulai dari Islam periode klasik, periode pertengahan hingga periode modern sekarang ini. Dari kisah dan peristiwa yang ada maka dapat dilihat bagai mana grafik naik turunnya peradaban Islam pada masa itu, seperti peradaban Islam pada masa Arab Pra-Islam, islam pada masa Nabi Muhammad SAW, berkembangnya Islam hingga menjadi negara besar pada masa Dinasti Bani Umayah, berkembang pesatnya ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah, islam pada masa lima khalifah besar dan khalifah-khalifah islam setelah itu hingga pada khalifah terakhir yaitu pada masa Abdul Majid II tahun1922-1924 M .

Islam dibawa dan disebarkan oleh salah seorang keturunan Quraisy, suku yang terkuat dan berpengaruh di Arab bernama Muhammad bin Abdullah. Sejak muda Muhammad sudah memiliki gelar al-aminyaitu orang yang tepercaya. Yatim piatu sejak berumur 6 tahun Muhammad tinggal beersama sanak saudaranya, mula-mula dengan kakeknya Abdul Muthalib, ia hidup bersama kakeknya kurang lebih 2 tahun karena Abdul Muthalib meninggal dalam keadaan yang memang sudah sangat renta, berikutnya ia diasuh oleh pamannya Abu Thalib.

Muhammad menjadi seorang Nabi kira-kira pada saat dirinya berumur 40 tahun. Ketika berumur 25 tahun Nabi Muhammad menikah dengan seorang saudagar wanita kaya raya yang sudah lama menjanda bernama Khadijah. Khadijah adalah seorang istri yang sangat disayanginya segaligus wanita pertama yang masuk Islam dan membantu Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam hingga akhir hayatnya. Islam muncul dan berkembang di sebuah masyarakat yang bisa dikatakan sangatlah rusak atau sering dinamakan sebagai zaman jahiliyah yaitu di kawasan Arab Mekah dimana mayoritas dari masyarakat adalah penyembah berhala. Sungguh bukan perkara yang mudah bagi seorang Muhammad yang mengemban misi risalah langit untuk mengubah keadaan yang sedimikian rupa. Sejak didapatnya petunjuk dari Allah melalui malaikat jibril tepatnya pada saat Nabi merenungi nasib kaumnya di dalam keheningan Gua Hira, Maka sejak itulah awal sejarah penyebaran dan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan ajaran Islam dimulai.

Kemunduran Islam terjadi mulai pada 1250-1500 M. Pada masa ini penyebab terbesar mundurnya era kejayaan Islam ialah karena serangan dari Jengis Khan dan keturun-keturunanannya yang datang dari Mongolia. Penyebab yang lain kemunduran Islam ialah pecahnya Islam menjadi kerajaan-kerajaan kecil, tidak adanya lagi khalifah yang diakui sebagai lambang persatuan umat Islam, serangan dari raja-raja kristen, terbaginya Islam kedalam dua golongan besar yaitu kaum Sunni dan kaum Syi’ah, adanya pengaruh tarikat-tarikat dan berkurangnya perhatian pada ilmu-ilmu pengetahuan.

Islam mulai beranjak bangkit kembali semenjak munculnya tiga kerajaan besar yaitu kerajaan Ustmani di Turki, Kerajaan Syafawi di Persia dan Kerajaan mughal di India. Akan tetapi kemajuan Islam pada periode kedua ini tampaknya cenderung pada aspek politik saja, perkembangan Islam di masa ini sangat kurang perhatiannya pada ilmu pengetahuan, berbeda dengan kemajuan Islam pada gelombang pertama yang merata pada semua aspek kehidupan. Diceritakan pula dalam di buku ini, bersamaan pada masa dimana Islam mencoba untuk bangkit kembali, bangsa Barat yaitu kawasan Eropa juga mulai bangkit terutama setelah terbukanya jalan ke pusat rempah-rempah dan bahan-bahan mentah di timur jauh, melalui Afrika selatan dan dijumpainya Amerika oleh Colombus pada tahun 1492 M akantetapi dibandingkan dengan kekuatan bangsa barat pada waktu itu, kekuatan islam masih lemah.

Islam periode modern terjadi di Turki setelah perang Dunia 1 yakni dibawah pimpinan mustafa Kemal dalam usahanya merombak sistim pemerintahan negara yang terpengaruhi oleh kekuasaan asing, kemudian pergolakan Mesir untuk melepaskan diri dari jajahan Inggris, Asia barat, Iran dengan tokoh terkenalnya Khomaeni, anak benua India khususnya pada wilayah India utara dan provinsi perbatasan barat laut India yang sekarang menjadi negara bagian pakistan, berikutnya adalah Eropa dengan minoritas muslimnya dngan semangat umat yang tinggi meski dengan berbagai macam tantangan juga peluang di negara yang mayoritas non-Muslim, dan yang terakhir dijelaskan dalam buku ini adalah perkembangan Islam di Amerika, namun proses masuknya Islam di Amerika sendiri masih bersifat spekulatif karena tidak ada teori yang tegas menerangkan tentang kronologis datangnya Islam ke Amerika.

Bagaimana mungkin sebuah peradaban besar yang mashur dan sangat berjaya dimasanya bisa hilang begitu saja dari sejarah tanpa meninggalkan pengaruh pada masa-masa sesudahnya, sesuatu hal yang  hampir tidak mungkin terjadi. Besar kecilnya pengaruh sebuah peradapan pada era atau masa sesudahnya ditentukan dari tinggi rendahnya nilai kebudayaan yang terdapat dimasa itu. Semakin tinggi nilai kebudayaan yang dibangun pada suatu peradaban maka semakin tajam dan jelas pula sejarah yang digoreskannya. Bukan hanya dari segi kebudayaan, semangat dan kemauan masyarakat pada suatu masa peradaban tertentu dalam menyebar luaskan wilayah maupun pengaruhnya pada dunia juga akan semakin memberi bekas yang nyata pada masa atau era selanjutnya ketika peradaban tersebut sudah berakhir atau tergantikan.

Demikian halnya dengan sejarah peradaban Islam, Islam tidak serta merta hadir tanpa suatu rangkaian peristiwa, akan tetapi peristiwa ini bukanlah sebuah cerita atau pun sekedar dongeng sebelum tidur, Islam bisa ada hingga saat ini dari awal sebuah titik perjalanan yang sangat lampau yaitu pada zaman Nabi Muhammad SAW seperti yang sudah dijelaskan di atas memiliki banyak momen dan kejadian penting yang harus dipelajari. Ada hal yang menyebabkan dan melatarbelakangi Islam sehingga begitu dikenal dan dianut sebagai salah satu Agama terbesar di Dunia. Lantas apa gerangan yang melatar belakangi Islam berkembang begitu pesat samapi pada era modern sekarang ini ?, tentu pembaca banyak sedikit sudah mulai paham setelah selesai membaca buku kecil namun memiliki keruntutan dalam penyampaiannya.

Buku ini seperti yang sudah dijelaskan di awal oleh penulis yakni “ Tidak ada sejarah yang lengkap”, menyajikan sejarah-sejarah islam dari awal hingga akhir dengan penuh kehati-hatian dan atas pertimbangan dari berbagaimacam metodelogi pendekatan serta referensi-referensi terpercaya. maka dirasa sudah saatnya kita sebagai manusia yang tinggal di era modern, pada peradaban terbaru saat ini untuk mengetahui semua kebenaran dari sebuah sejarah yang ada, tidak hanya mendengar desas-desus suatu peristiwa dan kemudian langsung mempercayainya, namun seperti apa yang sudah dilakukan penulis, paling tidak kita bisa mengambil hikmah serta kritis dalam menghadapi kenyataan yang ada khususnya bagi kita umat Islam itu sendiri.



Rabu, 07 Mei 2014

Buku Pintar Sejarah Islam : Jejak Langkah Peradaban Islam dari Masa Nabi Hingga Masa Kini









Judul
Buku Pintar Sejarah Islam : Jejak Langkah Peradaban Islam dari Masa Nabi Hingga Masa Kini  
No. ISBN
9786021791950 
Penulis
Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Saleh 
Penerbit
Tanggal terbit
Januari - 2014 
Jumlah Halaman
1218 
Berat Buku
-
Jenis Cover
Soft Cover 
Dimensi(L x P)
-
Kategori
Sejarah Agama 
Bonus
- 
Text Bahasa
Indonesia ·
Lokasi Stok
gudang penerbit http://www.bukukita.com/images/help3.gif



Peristiwa-peristiwa Penting dalam Sejarah Islam sejak Kelahiran Nabi Muhammad hingga Abad ke-21; Sejak April 571 M–Juli 2005 M; Sejak Kemunculan dan Kedigdayaan Khilafah Islam hingga Keruntuhannya
Sejarah adalah ingatan. Ia merekam bagaimana bangsa-bangsa mengalami kemajuan dan kemunduran; bagaimana negara-negara berdiri dan jatuh; bagaimana dakwah-dakwah gagal dan berhasil; bagaimana peradaban-peradaban tumbuh dan runtuh; bagaimana para pemimpin tampil gemilang dan hilang.

Seperti itulah yang akan kita saksikan tentang Islam dalam karya ini.

Buku ini memaparkan sejarah Islam dan menjelaskannya dari sudut pandang Islam: sejak masa Nabi Muhammad, Khalifah Empat, Dinasti Umayah, Dinasti Abbasiyah, hingga masa kini; sejak muncul di Makkah hingga merekah di penjuru dunia. Tak hanya menyuguhkan catatan manis saat Islam tampil sebagai kekuatan yang mewarnai peradaban dunia, tapi juga saat Islam sebagai kekuatan politik mengalami kemunduran dan paceklik. Bagaimana Islam berkonfrontasi atau berasimilasi secara alami dengan bangsa dan budaya lain.

Lebih dari itu, melalui buku ini, kita tak hanya diajak menengok masa lalu, tapi menjadikan masa lalu sebagai cermin, memilah dan memilih yang relevan untuk menafsirkan masa kini dan untuk menjadi pijakan membangun masa depan. Sebab, sejarah tak hanya memaparkan peristiwa, tapi juga menjejakkan makna.

Dikemas dalam deskripsi ringkas, inilah karya yang memudahkan kita mengetahui berbagai peristiwa sejarah dalam Islam dan mengingatnya dengan mudah.
(Sumber: www.bukukita.com)


Jumat, 02 Mei 2014

Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

Judul Buku      : 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa
Penulis            : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Jakarta 2011
Tebal Halaman : 412
Peresensi        : Raisa ‘Amiyatul Hijriani


          99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa merangkum seluruh perjalanan spiritual Hanum Salsabiela Rais bersama sang suami Rangga Almahendra selama lebih dari tiga tahun di Eropa. Petualangan ini telah membawa Hanum kepada titik nol yang selama ini ia cari. Dari perjalanan ini pulalah beliau menemukan banyak hal yang telah dilupakan generasi muslim masa kini bahwasanya peradaban Islam pernah menerangi Bumi Eropa dengan cahayanya yang terang benderang, dimana agama dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan, dan dimana semua agama dapat menjalankan ibadahnya masing-masing dengan aman serta hidup berdampingan satu sama lain dibawah naungan kekuasaan bernama Islam.

        Hanum, putri dari Bapak Amien Rais ini, dan suaminya, Rangga, berhasil menguraikan secara detail dengan gaya bahasa yang ringan dan mudah dimengerti cerita terselubung dibalik peninggalan-peninggalan sejarah peradaban Islam yang terhampar luas di Eropa. Dengan bekal pemahaman dan pengalaman yang dimiliki, mereka mampu membuka mata para pembaca dengan fakta-fakta tersembunyi dibalik peninggalan-peninggalan sejarah tersebut yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hanum dan Rangga mampu mengisi relung hati para pembacanya, menyajikan kata demi kata dengan sangat menarik, menggetarkan perasaan, dan mengalirkan ruh Islam dalam nadi, membuat siapapun yang membaca novel ini jatuh cinta lagi terhadap Islam.

        Kisah petualangan yang ditulis berdasarkan pengalaman nyata Hanum dan Rangga ini dimulai ketika Rangga mendapatkan beasiswa studi doktoralnya di Wina, Austria. Tidaklah mudah bagi mereka mengenal orang-orang baru dengan budaya yang sangat jauh berbeda dari budaya Indonesia. Berbagai polemik mereka hadapi ketika segalanya harus dihubungkan dengan rasionalitas. Betapa sulitnya menjelaskan mengapa mereka harus meninggalkan pekerjaannya hanya untuk beribadah lima waktu, mengapa mereka tidak memakan babi, dan ketika keeksistensian Tuhan dipertanyakan. Menjadi minoritas dikalangan mayoritas atheis, dimana orang tidak percaya keberadaan Tuhan, justru lebih sulit dibandingkan dengan menjadi minoritas dari agama yang lain.

       Namun, disinilah iman mereka diuji. Mereka tertantang untuk menjadi agen muslim yang baik dengan selalu bersabar terhadap semua perlakuan tidak menyenangkan yang mereka dapat ketika sulitnya melakukan ibadah, mengenakan hijab ditempat umum, membawa bekal makanan halal ke tempat kerja, dan penghinaan terhadap simbol kekuasaan Islam pada masa lampau yang didengar dari turis-turis lain. Seperti yang mereka yakini, mengalah itu tidak kalah melainkan menang secara hakiki. Kekuatan iman inilah yang mengantarkan mereka mengenal saudara-saudari muslim barunya disana dan membawa kaki-kaki mereka melangkah menuju Bumi peradaban Islam yang tersebar di Eropa.

      Dari kelas kursus bahasa Jermannya Hanum mengenal Fatma Pasha, seorang wanita muslim berhijab berkewarganegaraan Turki. Fatmalah yang kemudian membawa Hanum memulai ekspedisinya di Eropa. Dimulai dari bukit Kahlenberg, di Wina, Austria yang menjadi saksi bisu penyerangan Islam Ottoman Turki dibawah pimpinan Kara Mustafa Pasha tiga ratus tahun silam, Dinasti yang terkenal pernah merebut ibu kota kerajaan Romawi Byzantium di Konstatinopel. Pasukan Turki yang saat itu sudah mengepung dan hampir mengusai kota Wina, berhasil dipukul balik oleh pasukan gabungan Jerman dan Polandia di bukit tersebut. Di Wien Stadt Museum atau Museum Kota Wina, lukisan Kara Mustafa yang bagi rakyat Austria adalah seorang pembunuh terpampang. Disanalah Hanum mengetahui bahwa Fatma merupakan keturunan Kara Mustafa Pasha.

       Ada dua hal menarik yang dapat diambil disini. Pasukan Turki kala itu meninggalkan bukti sejarah di bukit Kahlenberg, yaitu biji-biji kopi Turki yang kini lebih dikenal orang berasal dari Italia, Cappucino. Dari Istana dan Museum Schoenbrunn pula, Hanum mengetahui bahwa roti Croissant, yang sering disuguhkan oleh Maria Antoinette, putri dari Ratu Austria, setelah menikah dengan Raja Prancis kepada para tamunya, bukanlah berasal dari Prancis melainkan roti yang dibuat oleh orang-orang Austria sebagai simbol untuk merayakan kekalahan Turki di Wina karena bentuk bulan sabitnya yang melambangkan Turki tersebut.

       Pemandangan ironis dapat dilihat disekitaran Masjid Vienna Islamic Centre yang terletak persis didepan Sungai Danube, dimana banyak sekali orang-orang berbaju minim berjemur dibawah terik matahari kota Wina. Sungguh menarik mengetahui fakta bahwa dibalik keironiannya justru hidayah itu turun. Banyak dari mereka yang sering berjemur atau sekadar bersantai disekitar Sungai Danube mengucapkan syahadatnya di masjid tersebut. Inilah bukti kekuasaan Allah SWT.

      Di Prancis, Hanum dan Rangga mengenal Marion Latimer, bule Prancis yang menjadi mualaf karena kekagumannya terhadap Napoleon Bonaparte. Dari semua perjalanan Hanum dan Rangga, mungkin inilah yang paling menggugah sanubari. Tokoh Marion, seorang peneliti ahli dibidang Sejarah Studi Islam Abad Pertengahan yang juga bekerja di Arab World Institute Paris ini mengingatkan kita pada film the Da Vinci Code. Ia mampu menguak sejarah dengan penjelasan yang sangat logis. Seolah Hanum ‘dipaksa’ berpikir lebih jauh mengenai fakta yang ada didepannya.

        Mulai dari Museum Louvre, museum terlengkap didunia dimana terpampang lukisan karya Leonardo Da Vinci yang terkenal, Mona Lisa. Sebuah inskripsi arab pseudo kufic kalimat tauhid laa ilaa ha illallah menjuntai indah di hijab Bunda Maria yang tengah menggendong bayi Yesus. Kemudian berlanjut ke Arc de Triomphe du Carrousel dengan gerbangnya mengahadap ke Timur yang dibangun Napoleon setelah ekspedisinya ke Mesir serta bangunan-bangunan lain yang sengaja dibuat membentuk garis imajiner lurus Axe Historique atau Voie Triomphale yang berarti ‘Jalan Kemenangan’ yang jika ditelusuri mengarah ke kiblat di Mekkah. Ya, Mekkah, Jalan Kemenangan.

       Mungkin banyak orang akan mengatakan fakta-fakta tersebut terlalu memaksakan. Tapi, kalaupun bukan kalimat laa ilaa ha illallah yang terukir di hijab Bunda Maria dan Napoleon tidak pernah memeluk islam, satu fakta tak terbantahkan yaitu peradaban islam pernah menancapkan pengaruhnya di benua Eropa. Dan satu hal pula yang tidak bisa dipungkiri oleh sejarah bahwa Jendral Jacques Francois Menou, tangan kanan Napoleon yang menemaninya dalam ekspedisi ke Mesir tersebut telah mengikrarkan dua kalimat syahadat.

       Hanum dan Rangga banyak mengisahkan berdirinya masjid-masjid dan gereja-gereja besar di Eropa. Seperti Le Grande Mosque de Paris atau Masjid Besar Paris yang menggambarkan fungsi masjid bukan sekadar untuk beribadah, tapi juga berdiskusi, bersilaturahmi, berdagang, dan kegiatan lainnya karena Islam tidak mengenal benturan sains dan agama sebagaimana Eropa pada masa kegelapan. Masjid ini dibangun untuk mengenang gugurnya tentara muslim pada PD I dan pernah menyelamatkan ratusan Yahudi dari kejaran Nazi.

       Gereja Notre Dame memiliki tiga pintu masuk yang berbentuk kubah lengkung ogive atau kurva lancip, terinspirasi oleh gerbang masjid seperti Masjidil Haram yang jumlahnya selalu ganjil. Ada juga gereja St.Charles yang bergaya baroque, memiliki atap berbentuk kubah raksasa seperti kubah masjid. The Mosque Cathedral atau Mezquita di Cordoba, Spanyol, merupakan masjid yang berubah menjadi gereja. Terdapat sisa-sisa ukiran ayat-ayat Al-Quran yang sudah dihancurkan dan bahkan mihrabnya pun dibatasi jeruji besi.

       Cordoba yang saat itu dikenal sebagai the City of Lights, kota pertama di Eropa yang dibangun oleh imperium Islam terkenal bukan karena hebat dibidang ilmu pengetahuannya saja, tapi juga keharmonisan perbedaan pemeluk agama Islam, Kristen, dan Yahudi dibawah Islam. Disana pulalah lahir para tokoh filsuf dunia seperti Maimonides, Averroes atau Ibnu Rushd, Ibnu Sina yang lebih dikenal dengan nama Avicenna, juga Al Farabi, dan masih banyak nama lainnya. Kejayaan Islam di Spanyol saat itu berakhir di Granada. Alhambra-lah yang menjadi benteng terakhir pertahanan umat Islam. Ratu Isabella dan Ferdinand kala itu berhasil mengambil alih Granada dan membabtis semua warga Islam dan Yahudi, memaksa menggantung babi didepan rumah dan memakannya sebagai bukti kesetiaan.

        Di Istanbul, atau Islambol, atau New Rome, atau Constatinopel hati Hanum bergejolak ketika melihat empat buah medalion raksasa bertuliskan Allah dan Muhammad mengapit gambar Bunda Maria memangku Yesus di Hagia Sophia, gereja Kristen Orthodok yang kemudian diubah menjadi masjid, dan pada masa Mustafa Kemal Ataturk diubah menjadi museum. Berbeda dengan Mezquita, lukisan Yesus dan Bunda Maria di Hagia Sophia saat diubah menjadi masjid dibiarkan saja dan hanya ditutupi kain. Ada juga Blue Mosque, Topkapi Palace, dan Jembatan Bosporus yang semakin menambah keindahan Istanbul. Pengalaman menyenangkan saat membaca novel ini adalah ketika membayangkan melewati jembatan tersebut. Sungai dibawahnya yang mengalir dari selat Bosporus, membelah Asia dan Eropa.

     Perjalanan ini berakhir di Mekkah. Membawa Hanum kepada titik nol yang selama ini ia cari, perjalanan untuk kembali kepada Tuhan. Sayangnya, bagian dimana Hanum, sang penulis mendapatkan hidayah-Nya untuk mengenakan hijab terlewatkan oleh novel ini. Rasanya akan lebih lengkap jika bagian itu disertakan sehingga Insya Allah dapat menjadi hidayah bagi para pembacanya juga.

       Banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Nuansa yang dibawa oleh penulis banyak mengangkat kebesaran Islam namun tetap dengan melihat realita dari kacamata masa kini. Betapa canggihnya muslim kala itu mampu menyebarkan pengaruhnya melalui kata-kata mutiara dalam Arab Kufic yang disukai para Raja. Inilah gambaran Islam yang sesungguhnya. Bukan dengan jalan yang salah, bukan melalui teori belaka, tapi melalui praktik langsung. Islam yang damai.

      Isu terbesar yang diangkat oleh novel ini adalah kejayaan Islam. Islam pernah menjadi bagian penting bagi sendi-sendi kehidupan di tanah Eropa. Dan sejarah akan tetap menjadi fakta. Sejarah juga bukan melulu soal siapa yang menang dan siapa yang kalah, siapa yang menyakiti dan siapa yang tersakiti. Tapi pelajaran apa yang bisa kita ambil darinya agar kelak kita manusia tidak jatuh kedalam kesakitan sejarah yang sama.

      Novel ini memberikan pesan kepada kita para muslimin bahwa untuk menghapus kebencian antar manusia, antar agama, adalah dengan menjadi agen muslim yang baik, yang bangga menjadi seorang muslim dengan mengetahui sejarahnya. Seperti yang dikatakan oleh Fatma dan ditulis oleh Hanum dan Rangga dalam novel ini, kita harus bangga terlahir sebagai muslim karena memahami, meresapi, mengenal, menyentuh, merasakan, dan mencintai Islam bukan karena paksaan orang lain. Perbedaan terjadi bukan karena Tuhan tidak bisa menjadikan kita sama, tapi Tuhan Maha Tahu jika kita semua sama maka tidak ada lagi keindahan hidup bagi manusia.

      Novel ini dilengkapi dengan desain peta setiap Negara yang dikunjungi dan foto-foto menarik yang mendukung isi cerita serta jejak kronologis sejarah peradaban Islam di Eropa dari abad ke abad. Sangat sayang jika terlewatkan oleh Anda


Jumat, 11 April 2014

ATLANTIS: The Lost Continent Finally Found Indonesia Ternyata Tempat Lahir Peradaban Dunia

Penulis: Prof. Arysio Santos
Terbit : Desember 2009
Penerbit: Ufuk Press
SBN: 978-602-82xxx
Ukuran: 15 x 23
Halaman: 684
Berat Buku: 900 gram 





CERITA mengenai keberadaan Benua Atlantis hingga kini terus menjadi misteri sejak dideskripsikan filsuf Yunani, Plato, pada ribuan tahun lalu dalam dua dialognya, “Timaeus” dan “Critias”. Tak hanya Plato, penulis kuno klasik lainnya seperti Homer, Hesiod, Pindar, Orpheus, Appolonius, Theopompos, Ovid, Pliny si tua, Diodorus Siculus, Strabo, dan Aelian juga ikut meramaikan soal keberadaan Atlantis.
Kenyataan ini pada akhirnya memunculkan perdebatan tak kunjung usai di kalangan saintis klasik dan modern. Bahkan, masing-masing meletakkan Atlantis di tempat yang mereka yakini sesuai dengan hasil temuannya seperti Al-Andalus, Kreta, Santorini, Siprus, Timur Tengah, Malta, Sardinia, Troya, Antartika, Australia, Kepulauan Azores, Tepi Karibia, Bolivia, Laut Hitam, Inggris, Irlandia, Kepulauan Canary, Tanjung Verde, Isla de la Juventud dekat Kuba, dan Meksiko.
Pandangan yang paling mutakhir mengenai Atlantis -dan sangat mengejutkan kita- datang dari seorang geolog dan fisikawan nuklir asal Brazil Prof Arysio Santos. Dia membantah tesis di atas dan meyakini bahwa Atlantis yang pernah digambarkan Plato sebagai sebuah negara makmur dengan kekayaan emas, batuan mulia, dan mother of all civilization dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga itu adalah Indonesia.
Kesimpulan Santos yang merujuk pada pandangan Plato bukan tanpa pertimbangan kuat. Selama 30 tahun ia melakukan studi dan penelitian. Selama itu pula hidupnya dipergunakan untuk mengungkap letak Atlantis yang sebenarnya. Hasil penelitiannya itu kemudian ia tulis dalam buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization. Untuk memperkuat argumentasinya, Santos juga merujuk pada tradisi-tradisi suci tentang mitos banjir besar yang melanda seluruh dunia.
Dalam buku ini, secara tegas Santos menyatakan bahwa lokasi Atlantis yang hilang sejak kira-kira 11.600 tahun yang lalu itu adalah di Indonesia. Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis. Mereka memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi. Itu terjadi sebagai hukuman dari Tuhan atas keserakahan dan keangkuhannya.
Dengan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan mutakhir seperti geologi, astronomi, paleontologi, arkeologi, linguistik, etnologi, dan comparative mythology, Santos juga mengungkap sebab-sebab hilangnya Atlantis dari muka bumi. Dia pun membantah hipotesis yang menyatakan bahwa musnahnya Atlantis disebabkan tabrakan meteor raksasa yang disebabkan oleh komet dan asteroid. Menurut Santos, tabrakan di luar angkasa itu adalah order of magnitude yang lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan letusan gunung berapi.
Hipotesis lain yang dibantah Santos adalah tesis yang mengatakan Atlantis musnah disebabkan pergeseran kutub dan memanasnya Antartika pada zaman es. Menurut Santos, fenomena seperti itu mustahil terjadi pada masa lalu jika dilihat dari sisi fisik dan geologisnya.
Musnahnya Atlantis, menurut Santos, lebih disebabkan banjir mahadahsyat yang menenggelamkan hampir seluruh permukaan dunia, yang membinasakan 70 persen penduduk dunia -termasuk di dalamnya binatang. Yang memegang peran penting dalam bencana tersebut adalah letusan Gunung Krakatau dan Gunung Toba, selain puluhan gunung berapi lainnya yang terjadi hampir dalam waktu yang bersamaan.
Bencana alam beruntun itu, kata Santos, dimulai dengan ledakan dahsyat Gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar, yaitu Selat Sunda, hingga memisahkan Pulau Sumatera dan Jawa. Letusan tersebut menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran rendah antara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, antara Jawa dan Kalimantan, serta antara Sumatera dan Kalimantan. Bencana besar itu disebut Santos sebagai “Heinrich Events”.
Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa fly-ash naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (zaman es pleistosen). Abu itu kemudian turun dan menutupi lapisan es. Karena adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di Kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.
Banjir akibat tsunami dan lelehan es itulah yang mengakibatkan air laut naik sekitar 130 hingga 150 meter di atas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam di bawah permukaan laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Tekanan air yang besar itu menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya zaman es pleistosen secara dramatis.
Terlepas dari benar atau tidaknya teori tersebut, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Santos sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang luar ke Indonesia. Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya, ini adalah suatu proses dari hukum alam tentang masa keemasan dan kemunduran suatu bangsa.

(Sumber : http://arifust.wordpress.com)

Selasa, 18 Februari 2014

Mencari Titik Temu Agama dan Kemiskinan

Judul:  Rakyat Kecil, Islam dan Politik
Penulis: Martin van Bruinessen
Penerbit:  Gading, Yogyakarta, 2013
Tebal: xvii + 482 Halaman


Kemiskinan di wilayah urban telah lama menjadi masalah, sebab dari sinilah persoalan-persoalan yang lebih luas meluber. Kriminalitas, pengangguran, hingga konflik sosial adalah sebagian dari daftar panjang luberan masalah tersebut.
Martin van Bruinssen, peneliti asal Belanda, secara cermat mencatat masalah tersebut dalam sebuah penelitian. Penelitian tersebut dilakukan di sebuah kawasan kumuh di kota Bandung pada pertengahan tahun 1980-1990-an.
Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa kemiskinan di wilayah  tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor. Faktor tersebut antara lain adalah kedatangan ataupun perpindahan penduduk ke wilayah tersebut.
Perpindahan tersebut diikuti dengan sempitnya lapangan pekerjaan. Alhasil, penduduk terpaksa menjalankan pekerjaan informal seperti membuka warung, berdagang makanan kecil, atau bekerja sebagai buruh rumahan dengan mengupas bawang.
Sayangnya usaha semacam itu selalu diikuti oleh penduduk lainnya. Persaingan tidak dapat dihindari. Persaiangan yang tinggi membuat  usaha tersebut tidak dapat bertahan lama. Mereka pun kembali bangkrut dan harus bersusah payah membangun usaha lain. Padahal untuk itu mereka harus menyiapkan modal yang banyak.
Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa rendahnya kreativitas dan kurangnya kemampuan inovasi membuat kompetisi sulit diatasi dengan baik.  Ada penduduk yang mencoba bertahan, ada juga yang menyerah begitu saja. Mereka yang bertahan harus menjalaninya dengan berat.
Namun kemudian Bruinessen mempertanyakan posisi lembaga keagamaan.  Dalam hal ini ia menyandingkan posisi lembaga keagamaan dengan fenomena kemiskinan itu sendiri. Baginya, segala dinamikan lembaga keagamaan yang terjadi di Indonesia belum dapat menyentuh persoalan mendasar masyarakat, yakni kemiskinan.
Hal yang terjadi, banyak lembaga keagamaan yang justru terlalu sibuk dengan urusan kekuasaan dan politik. Buku ini memperlihatkan bagaimana NU (Nahdlatul  Ulama) yang semula merupakan lembaga keagamaan, mengubah dirinya menjadi lembaga politik yang kemudian terbukti banyak memberikan ruang yang menguntungkan bagi anggotanya (Hal. 138).
Namun kemudian ada dorongan internal agar NU untuk menarik diri dari kegiatan politik. Dorongan ini dipicu oleh kenyataan bahwa organisasi tersebut semakin kurang memberikan perhatian kepada dakwah dan pembinaan umat. Hasilnya, pada tahun 1983, NU kembali  ke Khittah 1926 (hal. 1943).
Hal menarik lain yang disinggung dalam buku oleh Bruinessen adalah dinamika lembaga maupun kelompok-kelompok Islam yang ada dalam masyarakat.  Tampaknya memang tak mudah melepaskan Islam dari hiruk pikuk masalah sosial dan politik. Islam selalu menjadi elemen penting di dalamnya.
Pada analisa Bruinessen, itu alasannya mengapa rezim berkuasa selalu melibatkan lembaga-lembaga Isalam untuk berbaga proyek ataupun programnya. Bagi pemerintah Islam bukan sekadar agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia, melainkan juga potensi untuk melakukan sebuah gerakan.


Sumber : http://ulas-buku.blogspot.com/

Jumat, 07 Februari 2014

Resensi Buku : Princess Kocak

Judul                    : Princess Kocak
Penulis                 : Fita Chakra dan Eka Dresti Swaranindita
Penerbit               :  Dar! Mizan , Cetakan 1,  2013
Ilustrasi                :  InnerChild Studio
Jumlah Halaman   : 140 halaman
Harga                   : Rp 49.000,-

Saya tertarik membaca buku ini karena melihat ilustrasi kavernya yang imut dan  menggemaskan.  Ketika mulai membacanya, saya setuju dengan sinopsis yang ada di sampul belakang buku ini. Bahwa buku ini berisi 30 cerita tentang kekonyolan para princess yang mungkin tidak pernah saya baca pada buku princess umumnya.  Jadi sebelum membaca buku ini, jangan berpikir akan menemukan tokoh princess yang sempurna. Baik fisik maupun sifat mereka. Semua karakter yang ada dalam cerpen ini saya pastikan bisa kita temui pada anak-anak kita.
Beberapa diantaranya ada princess yang suka menggosip, peniru, kutu buku, pelit, jorok dan  karakter lain yang sangat berbeda. Setiap cerita memiliki karakter yang cukup unik. Mereka juga mendapat masalah karena keunikan mereka itu. Masalah mereka mungkin menurut kita orang dewasa sangat sepele. Tapi penulis berhasil membuat para tokohnya memecahkan masalah mereka dengan baik.
Dalam setiap cerita penulis menyelipkan pesan moral secara tidak langsung. Saya rasa anak-anak yang membacanya tak akan menyadari bahwa mereka ternyata mendapatkan pesan moral itu. Mereka akan mengangguk setuju karena menemukan kesamaan prilaku mereka dengan para princess. Sebagian seting cerita dalam buku ini bersifat realis. Sebagian lagi fantasi.
Buku ini berhasil membuat saya tersenyum simpul bahkan terbahak saat membacanya. Takjarang saya mengangguk setuju dengan cerita yang isinya mengatakan bahwa ternyata prilaku buruk karakternya akan berakibat buruk pada mereka juga. Contohnya ketika membaca salah satu cerpen yang berjudul Lolipop Princess Lunaya.
 Lunaya seorang princess yang suka sekali makan lolipop. Suatu kali lolipop itu membuatnya tersedak karena dia bicara saat lolipop di mulutnya. Padahal bunda ratu sudah berulang kali melarang sang princess bicara ketika makan lolipop. Sayangnya sang princess tidak kapok makan lolipop walau dia tidak bisa bernapas sat itu. Hingga kejadian fatal terjadi. Suatu hari raja membuat sang princess terkejut. Lolipop yang sedang di mulut princess terlempar dan nyangkut di jenggot raja. Parahnya raja tidak menyadarinya dan menerima tamu dengan lolipop di jenggot. Bisa kita bayangkan, semua tamu menahan senyum karenanya.
Fontnya yang cukup besar, membuat mata nyaman membacanya. Apalagi setiap cerita disertakan satu ilustrasi cantik berwarna sesuai tema cerita.  Setiap satu cerita dibedakan juga dengan warna halamannya, yaitu putih dan kuning.
Satu kekhawatiran saya, karena judulnya Princess Kocak, saya rasa pembaca cilik laki-laki tidak mau melirik buku ini. Padahal tokoh dalam buku ini juga ada prince alias pangeran. Mungkin kalau nanti cetak ulang, judulnya bisa diganti dengan Prince dan Princess Kocak. [NS] *


Sabtu, 09 November 2013

Jeli Melihat Peluang Bisnis

Judul: 40 Bisnis dan Investasi yang Menggiurkan
Penulis: Agung Budi Santoso
Penerbit: Panta Rei
Tebal: 253 Halaman
Terbit: November 2007


Kini semakin banyak orang yang berminat untuk memiliki usaha sendiri. Bahkan orang yang sudah memiliki pekerjaan tetap pun selalu mencari peluang untuk menambah pendapatan dengan cara ini. Bisnis yang dilakukan tidak perlu terlalu besar, tetapi yang penting dapat memberikan income tambahan yang memuaskan setiap bulannya.

Namun orang acap kali harus memutar otak untuk menentukan jenis usaha yang akan digelutinya. Mereka tidak mengetahui jenis usaha seperti apa yang cocok dilakukan, baik dari segi modal maupun keuntungan yang akan diraih. Akhirnya mereka menemukan jalan buntu.
Sebetulnya banyak sekali peluang bisnis yang dapat dilakukan. Bahkan mungkin peluang itu ada di sekitar lingkungan sendiri, baik lingkungan rumah atau kantor. Namun ironisnya peluang itu sering luput dari tangkapan ”indera ke enam” bisnis seseorang. Akibatnya, jutaan rupiah yang sebenarnya dapat mengalir ke dalam kantong malah hilang begitu saja. Hal yang menyedihkan, peluang yang ada di depan mata justru disambar oleh orang lain.

Hal itulah yang sebetulnya ingin disampaikan dalam buku 40 Bisnis dan Investasi Menggiurkan ini. Buku ini seperti ingin menunjukkan bahwa peluang berbisinis dan berinvestasi sesungguhnya masih sangat terbuka terbuka lebar, mulai dari bisnis berisiko rendah, hingga bisnis dengan risiko lebih tinggi.

Tidak hanya itu, penulis menyampaikan bahwa dari hal yang terkesan sepele, ternyata dapat dimulai sebuah bisnis yang hasilnya tidak dapat dikatakan kecil. Salah satu contoh bisnis yang ditawarkan penulis adalah bisnis kliping. Siapa pernah menduga bahwa bisnis ini ternyata cukup menjanjikan. Hanya dengan bermodal berlangganan koran, majalah dan tabloid, atau bahkan membeli bekas secara kiloan, seseorang dapat menghasilkan jutaan rupiah dari kliping yang dikumpulkannya.

Bisnis lain yang juga tidak bermodal banyak namun bisa menjadi andalan dalam mencari pendapatan tambahan adalah lahan parkir. Dengan modal utama lahan kosong saja, seseorang dapat memulai usaha lahan parkir. Apalagi lokasi lahan kosong yang dimiliki sangat dekat dengan kantor, pertokoan, atau sekolah yang tidak memiliki lahan parkir yang memadai.
Masih banyak lagi bisnis maupun investasi yang disampaikan dalam buku ini, mulai dari berjualan bubur ayam, es campur, waralaba, invetasi emas, hingga bermain saham. Namun secara garis besar buku ini membagi bisnis dan investasi menjadi empat bagian.

Bagian pertama mengupas bisnis dan investasi yang berkaitan dengan jasa. Bisnis yang berkaitan dengan bidang ini diantaranya adalah sebagai penulis artikel, penulis buku, penerjemah, penulis skenario, waralaba laundry hingga penyewaan alat pesta.

Bagian ke dua membahas bisnis yang berkaitan dengan makanan dan minuman. Di dalamnya dikupas bisnis katering, jus, toko oleh-oleh, hingga warung STMJ. Pada bagian ke tiga diuraikan berbagai investasi untuk melipatgandakan uang, mulai dari mini market, reksadana, bermain saham, sampai investasi dalam bentuk emas. Sedangkan pada bagian ke empat dipaparkan bagaimana membuka keran uang dengan bisnis budidaya dan kerajinan. Di sini dibahas bisnis-bisnis seperti beternak ikan cupang, kolam pemancingan ikan, beternak lele, tanaman hias hingga usaha florist.

Menariknya, setiap bisnis yang dibahas dalam buku ini disertai ilustrasi biaya yang harus dikeluarkan dan keuntungan yang akan didapat. Dengan demikian pembaca akan lebih mudah mengukur dan mendapatkan gambaran dari bisnis yang akan dijalankan.

Berbagai jenis bisnis maupun investasi yang disampaikan dalam buku ini memberikan inspirasi pada pembacanya bahwa peluang bisnis masih terbuka lebar. Siapa pun dapat melakukannya, tergantung isi kocek tentunya. Namun, yang paling penting adalah, buku ini mengajarkan bahwa kejelian melihat peluang merupakan kunci sukses setiap bisnis maupun investasi yang dilakukan.


Sumber : http://ulas-buku.blogspot.com/

Senin, 02 September 2013

Sepanjang Hayat Bersama Rakyat

Judul   : Sepanjang Hayat Bersama Rakyat
Penulis : Tim Kompas
Editor  : Julius Pour dan Nur Adji
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Terbit   : I, April 2012
Halaman :  xii + 347 Halaman



Problema utama historiografi ialah subjektivitas. Inilah menyebabkan historiografi cenderung tampil sebagaimana diinginkan oleh penulisnya dengan mengabaikan evidensi-evidensi objektif.

Cara memandang peristiwa sejarah yang keliru, orientasi penulisan yang sentralitis, serta berbagai tarikan kepentingan, cenderung  menghasilkan sebuah sejarah yang mistifikatif. Oleh karena itu, pelurusan sejarah menjadi sesuatu yang tidak boleh dihindari.

Begitu pula dengan sejarah Serangan Umum (SU) 11 Maret 1949 di Yogyakarta yang dilakukan oleh tentara gerilya. Peristiwa ini menjadi kontroversial karena berbagai tulisan sejarah memiliki versi yang berbeda-beda mengenai subjek penggagas serangan tersebut.

Banyak literatur menyebutkan, SU digagas oleh Letkol Soeharto, yang kelak menjadi presiden Republik Indonesia. Namun kemudian bantahan muncul yang menyebutkan bahwa peristiwa yang terjadi di Yogyakarta itu adalah inisiatif Sultan Hamengku Bowono IX.

Perbedaan itulah yang banyak dibahas pada bagian awal buku ini. Berbagai kutipan serta pandangan dari pelaku maupun ahli sejarah disampaikan untuk memberikan perspektif yang berbeda, terkait dengan SU.

Dari tulisan yang ada, seakan ingin ditegaskan bahwa Sultan Hamengku Buwono IX-lah yang pertama-tama melihat arti strategis SU bagi eksistensi bangsa Indonesia. Itu sebabnya ia kemudian meminta Letkol Soeharto untuk mengomandoi sebuah operasi yang dicetusnya.

Ketika peristiwa sejarah ini diputarbalikkan, Sultan tidak banyak berkomentar. Penyebabnya,  ia tidak memiliki ambisi untuk dikenang dalam sejarah. Kepentingannya hanya satu yakni kepentingan rakyat.

Selain itu, buku ini juga ingin mempertegas posisi Sultan Hamengku Buwono IX. Baik perannya dalam sejarah bangsa Indonesia, maupun posisinya di hati rakyat. Apalagi Sultan dikenal sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat.

Dalam buku ini diungkapkan sebagian kecil hal yang telah dilakukan oleh Sultan pada masa-masa awal berdirinya Republik Indonesia. Misalnya saja Sultan mempersilakan pusat pemerintahan Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta. Sultan juga  menyumbangkan harta Keraton Yogyakarta untuk membiayai penyelenggaran pemerintahan Republik Indonesia.

Dengan demikian, wacana untuk meniadakan keistimewaan Yogyakarta adalah hal yang ahistoris. Sebagai bangsa yang besar, tidak pantas rasanya menghilangkan ataupun melupakan sejarah.

Bukan hanya kisah besar mengenai Sultan yang diungkapkan dalam buku ini, melainkan juga kisah-kisah human interest yang memperlihatkan karisma dan kesederhanaan seorang Raja Jawa.
Misalnya, ketika Sultan berkunjung ke New York. Suatu kali, di tengah perjalanan kembali ke hotel, ia meminta Joop Ave, yang bertugas sebagai konsul di Konjen RI di New York,  meninggalkannya tanpa pengawalan untuk berjalan-jalan dan berbelanja di  Bloomingdale Department Store.

Joop Ave yang saat itu ditugasi menemani Sultan tidak dapat berbuat banyak. Ia pun meninggalkan Sultan sendirian dengan cemas.

Buku yang diterbitkan untuk  mengenang 100 tahun Sultan Hamengku Buwono IX ini kembali mengingatkan kita, bahwa pemimpin sejati adalah pemimpin yang mengayomi dan mendengarkan rakyat. Hanya dengan cara itu ia dicintai dan selalu memiliki tempat di hati rakyat.***


(peresensi : Nigar Pandrianto)
(Sumber : http://ulas-buku.blogspot.com/)

 

Contact our Support

Email us: pusatwakaf@yahoo.com

Our Team Members